Sekitar Penempatan Kuburan Rosululloh di Masjid Nabawi dan Pembangunan Kubah di Atasnya

April 26, 2008 at 7:42 am Leave a comment

source: here

Asy Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i rohimahullohu[1]

Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata dalam Al-Bidayah wan Nihayah (9/73) sehubungan peristiwa tahun 88H : “Ibnu Jarir[2] menyebutkan bahwa pada bulan Rabi’ul Awwal dari tahun tersebut, datang surat Al-Walid (yang menjabat Khalifah saat itu) kepada Umar bin Abdul Aziz (sebagai gubernur Madinah) yang isinya memerintahkan beliau agar masjid Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam direhab dan direnovasi, dan ruangan-ruangan Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam ditambah dan diperluas dari sisi Kiblat atau depan masjid, serta seluruh sisi-sisinya, sehingga ukurannya menjadi dua ratus meter persegi nantinya. Siapa yang menjual tanah atau bangunan miliknya kepada anda hendaklah dibeli, karena jika tidak maka dihargai dengan harga yang seadil-adilnya, lalu dirubuhkan dan dibayarkan kepada mereka harga bangunan atau rumahnya tersebut. Sesungguhnya anda dalam masalah ini memiliki landasan, yaitu seperti yang pernah dilakukan para pendahulu anda, yaitu Umar dan Utsman.”

Lalu Umar bin Abdul Aziz mengumpulkan orang-orangnya, para fuqaha yang sepuluh dan masyarakat Madinah, lalu beliau membacakan surat Amirul Mukminin tersebut. Akan tetapi mereka merasa berat melaksanakannya, mereka berkata : “Ruangan-ruangan ini atapnya pendek dan terbuat dari pelepah kurma, dindingnya dari batu bata dan pintunya terdapat permadani dari bulu yang kasar. Jadi membiarkan masjid dalam bentuk seperti ini lebih baik. Orang-orang yang menunaikan haji, para musafir dan peziarah dapat menyaksikan serta melihat-lihat rumah-rumah Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam, sehingga merekapun bisa mengambil manfaat dan pelajaran darinya, semua ini lebih mengajak untuk zuhud di dunia. Mereka tidak merehabnya kecuali sebatas yang mereka butuhkan, yaitu sekedar melindungi mereka dari terik dan panas. Serta agar mereka mengetahui bahwa bangunan yang tinggi merupakan pekerjaan raja-raja Fir’aun dan kekaisaran Persia. Semua yang panjang angan-angan akan menginginkan dunia dan berharap kekal di dalamnya”.

Seketika itu, maka Umar bin Abdul Aziz mengirim surat balasan kepada Al-Walid yang isinya menjelaskan kesekapakan para fuqaha yang sepuluh tersebut. Tetapi Al-Walid megirim utusan yang memerintahkan beliau untuk merombak dan membangun kembali masjid seperti yang diinginkan sebelumnya serta atap-atapnya ditinggikan, maka mau tidak mau, Umar bin Abdul Aziz merombaknya. Ketika mereka memulai perombakan, para tokoh dan pemuka masyarakat Bani Hasyim dan yang lainnya berteriak, mereka menangis seperti hari Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam wafat, dan para pemilik bangunan di sekitar masjid pun menjual bangunannya. Pekerjaan akhirnya dimulai dengan cepat dan sungguh-sungguh, serta menyingsingkan lengan dan baju dengan dibantu banyak pekerja yang dikirim Al-Walid. Maka kamar Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam masuk di dalamnya, kamar Aisyah Rodhiyallohu ‘anha, termasuk kuburan Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam akhirnya masuk dalam kawasan masjid. Ukuran akhirnya dari timur sampai kamar-kamar isteri Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam seperti diperintahkan Al-Walid.

Diriwayatkan, ketika mereka menggali dinding pembatas sebelah timur dari kamar Aisyah Rodhiyallohu ‘Anha, tiba-tiba muncul sebuah kaki. Mereka pun khawatir jangan-jangan itu kaki Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam, hingga akhirnya mereka yakin kalau itu kaki Umar bin Khaththab Rodhiyallohu ‘anhu. Diceritakan bahwa Sa’id Al-Musayyib tidak mau menerima jika kamar Aisyah Rodhiyallohu ‘Anha dimasukkan ke dalam masjid, seakan beliau khawatir jika kuburan dijadikan masjid. Sampai di sini kutipan dari Al-Bidayah wan Nihayah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullohu berkata dalah kitab Al-Jawabul Bahir (hal.71) : “Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam dikuburkan di kamar Aisyah Rodhiyallohu ‘anha, dan kamar tersebut serta kamar-kamar isteri-isteri Rosululloh yang lain berada di sisi timur masjid, kiblat dahulunya tidak masuk dalam kawasan masjid, bahkan berada di luar antara kamar dan masjid. Akan tetapi pada pemerintahan Al-Walid, masjid Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam diperluas, Al-Walid gemar merenovasi dan membangun masjid. Beliau memperluas Masjidil Haram, Masjid Damasyqus dan yang lainnya. Beliau memerintahkan wakilnya di Madinah (Umar bin Abdul Aziz) membeli rumah-rumah dari pemiliknya, yang sebelumnya mewarisinya dari isteri-isteri Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam, lalu menambahkannya ke dalam masjid. Sejak itu rumah-rumah tersebut masuk dalam kawasan masjid. Hal tersebut terjadi setelah beberapa sahabat wafat ; setelah wafatnya Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Abu Sa’id Al-Khudri serta Aisyah, bahkan setelah wafatnya mayoritas para sahabat dan tidak tersisa satupun dari mereka di Madinah saat itu.”

Diriwayatkan bahwa Sa’id bin Al-Musayyib mengingkari hal ini, juga umumnya sahabat dan tabiin mengingkari apa yang dilakukan Utsman bin Affan Rodhiyallohu ‘Anhu ketika beliau membangun masjid Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam dengan batu dan kayu jati, begitu pula ketika Al-Walid melakukan hal yang sama. Adapun Umar bin Al-Khaththab Rodhiyallohu ‘Anhu, beliau memperluasnya tetapi dengan batu bata (seperti saat Rosululloh membangunnya) tiang-tiangnya dari batang kurma, dan atapnya dari pelepah kurma. Tidak diriwayatkan bahwa ada seorang sahabat yang mengingkari kebijakan Umar bin Al-Khaththab Rodhiyallohu ‘Anhu, yang ada adalah ketika Utsman Rodhiyallohu ‘Anhu melaksanakan kebijakan beliau tersebut, maka terjadi perselisihan pendapat di kalangan para sahabat.”

Beliau rohimahullahu melanjutkan : “Adalah Al-Walid bin Abdul Mulk menjabat khalifah setelah wafatnya ayah beliau (Abdul Mulk) pada tahun delapan puluhan hijriyah, ketika para sahabat (di Madinah) tersebut sudah meninggal seluruhnya. Juga sebagian besar sahabat di seluruh kawasan dan penjuru sudah meninggal, dan sedikit sekali yang masih hidup seperti Anas bin Malik Rodhiyallohu ‘Anhu di Bashrah, beliau Rodhiyallohu ‘anhu meninggal di zaman kekhalifahan Al-Walid, pada tahun sembilan puluhan hijriyah. Begitu pula Jabir bin Abdullah Rodhiyallohu ‘Anhu yang meninggal pada tahun 78H di Madinah, dan beliau sahabat yang paling akhir meninggal di Madinah. Adapun Al-Walid, beliau memasukkan rumah Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam jauh setelah itu, sekitar sepuluh tahun, dan pembangunan masjid dilakukannya setelah Jabir Rodhiyallohu ‘Anhu wafat, hingga tidak ada satupun dari para sahabat yang masih hidup di Madinah saat itu.”

Beliau rohimahullohu menyinggung pula masalah ini dalam kitab yang lain Ar-Raddu ‘Alal Ikhna’i (hal. 119) dan Iqtidha’ush Shiraathal Mustaqim (hal. 367). Demikian yang disebutkan oleh para ahli sejarah seperti dalam Umdatul Al-Akhbar (hal.108), Tahqiqun Nushrah bi Talkhishi Ma’alimi Daril Hijrah oleh Al-Maraghi (hal. 49) dan Wafa’ul Wafa (jilid pertama hal, 513) oleh As-Samhudi.

Dengan demikian, jelas bagi kita bahwa Al-Walid rahimahullahu telah salah ketika beliau memasukkan kamar-kamar ini ke dalam masjid Nabawi. Beliau telah melanggar larangan Rosululloh yaitu menjadikan makam sebagai masjid dan shalat menghadapnya, karena siapa yang shalat di tempat yang sebelumnya diperuntukkan bagi para sahabat Ahlush Shuffah pasti menghadap ke makam, sebagaimana yang kita saksikan. Begitu pula para wanita, mereka adalah shalatnya di masjid Nabawi menghadap ke kuburan. Wajib bagi kaum muslimin untuk mengembalikannya seperti semula (berada di sisi timur) sebagaimana di zaman Rosulullah, karena sesungguhnya sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam.

Pembangunan Kubah

Asy-Syaikh Ahmad bin Abdul Hamid Al-Abbasi rohimahulloh, yang wafat pada abad kesepuluh hijriyah, berkata dalam kitab beliau ‘Umdatul Al-Akhbar Fi Madinaatil Mukhtar (hal.124) : “Pada tahun 678H, Sultan Raja Al-Manshur Qalawun ash-Shalihi, ayah dari sultan Raja An-Nashir Muhammad bin Qalawun, memerintahkan agar kubah dibangun diatas kamar yang mulia tersebut, tepatnya di atas atap masjid. Dibangun dengan batu bata merah setinggi setengah badan, agar bisa dibedakan antara atap kamar yang mulia ini dan atap masjid di sekitarnya yang juga dibangun dengan batu bata merah, maka diselesaikanlah kubah ini seperti yang terlihat sekarang ini …. dst.” Sampai akhir perkataan beliau rohimahulloh.

Zainuddin Al-Maraghi, yang wafat pada tahun 810H, berkata dalam kitab beliau Tahqiqun Nushrah bi Talkhishi Ma’alami Daril Hiijrah (hal. 81): “Ketahuilah, tidak ada kubah yang dibangun di atas kamar baik sebelum dan sesudah masjid Nabawi terbakar, bahkan tidak ada di sekitar kamar Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam berupa atap setinggi setengah badan yang dibangun dengan batu bata merah untuk membedakan antara kamar Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam dengan atap di sekitarnya, hingga kemudian dibangun pada tahun 678H di zaman pemerintahan Al-Manshur Qalawun Ash-Shalihi…. dst.” Sampai akhir perkataan beliau rohimahulloh. Senada dengan di atas, adalah yang diungkapkan oleh As-Samhudi, yang wafat pada tahun 911H, dalam kitab beliau Wafa’ul Wafa (2/609).

Pengingkaran Ulama Terhadap Bangunan Kubah

Tidak diragukan lagi bahwa para ulama –semoga ALLOH Subhanahu Wa Ta’ala merahmati mereka- mengingkari apa-apa yang diharamkan oleh syariat agama. Sebagian mereka menegaskan pengingkaran ini, dan sebagian lagi memilih jalan diam karena mereka menyadari tidak ada gunanya berdebat dan memperpanjang masalah. Atau bisa jadi mereka ingin bersikap ramah dengan jalan diam ini berdasarkan sabda Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam kepada Aisyah Rodhiyallohu ‘Anha : “Seandainya bukan karena kaummu yang baru saja terlepas dari kekafiran, niscaya aku akan mendirikan rumah di atas pondasi-pondasi (yang dibangun) Ibrahim (sebelumnya) .”

Sudah diketahui sebelumnya bahwa mereka yang mengingkari hal ini telah melaksanakan kewajiban yang diperintahkan ALLOH Subhanahu Wa Ta’ala, yaitu dengan memberikan nasihat demi Islam dan kaum muslimin sendiri. Berikut ini di antara mereka yang mengingkarinya, sebagai berikut:

1. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullohu berkata dalam kitab beliau Iqtidha’ush Shirathil Mustaqim : ‘Karena itu, ketika kamar Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam dibangun di zaman tabi’in –demi ayah dan ibu Rosululloh- mereka pun membiarkan atapnya berlubang, dan sampai sekarang masih seperti itu. Diletakkan diatasnya lilin dan di ujungnya ada batu sebagai penyanggahnya, sedang langit tampak dari bawah. Itu dibangun setelah masjid Nabawi dan mimbarnya terbakar di tahun enam ratus lima puluhan hijriyah, di mana api muncul di wilayah Hijaz yang disebabkan sekawanan unta di Bushra, lalu datanglah serangan pasukan Tartar di Baghdad dan wilayah-wilayah lainnya. Setelah itu masjid Nabawi berserta atapnya dibangun kembali seperti semula, tetapi di seklitar kamar Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam dibangun dinding dari kayu. Kemudian selang beberapa tahun dibangunlah kubah di atas atap tersebut, namun pembangunan ini ditentang oleh orang-orang yang mengingkarinya.”

2. Ash-Shan’ani rohimahullohu berkata dalam Tathhirul I’tiqad : “Jika anda mengatakan bahwa kuburan Rosululloh ini saja telah dibangun kubah yang besar di atasnya dengan dukungan dan dan harta, maka aku berkata : “Inilah kebodohan besar akan hakikat peristiwa sebenarnya, karena kubah ini bukan dibangun oleh Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam, bukan pula para sahabatnya ataupun tabi’in ataupun tabi’it tabi’in, bahkan para ulama dan pemimpin agama. Akan tetapi ia merupakan bangunan penguasa Mesir belakangan, yaitu Qalawun Ash-Shalihi yang lebih dikenal dengan Raja Al-Manshur pada tahun 678H. Jadi, masalah ini sifatnya politis, bukan dalil yang dapat dijadikan pegangan.”

3. Asy-Syaikh Husein bin Mahdi An-Na’ami, dalam kitab beliau Ma’arijul Al-Bab, mengemukakan pernyataan sebagian mufti yang berhujjah dengan kubah Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam. Atas dibolehkannya membangun kubah di atas kuburan, maka sang mufti berkata, “Sudah diketahui sebelumnya bahwa Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam memiliki kubah, begitu pula para pemimpin Madinah serta negeri-negeri yang lainnya. Kubah tersebut diziarahi setiap waktu dan diyakini mendatangkan berkah” Oleh karena itu, Syaikh Husein rohimahullohu berkata : Aku menyatakan, jika memang demikian adanya, maka bagaimana dengan peringatan Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam dimana beliau mengingatkan serta menyatakan bebasnya diri beliau?! Lalu kalian nyata-nyata mengerjakana apa yang dilarang oleh Rosululloh, apakah ini tidak cukup bagi kalian sebagai pelanggaran terhadap perintah Rosululloh, dan sikap perlawanan atas diri Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam?! Apakah Rosululloh pernah menganjurkan hal seperti ini, sekalipun dengan isyarat, atau beliau ridha atau beliau tidak melarangnya?! Adapun keyakinan kalian akan turunnya berkah, maka itu menurut kalian dan bukan dari Alloh Subhanahu Wa Ta’ala! Jadi perihal berkah ini sebagai bantahan terhadap kalian.”

Demikianlah, dan saudara-saudara kita –semoga ALLOH Subhanahu Wa Ta’ala merahmati mereka- pernah bertekad untuk merubuhkan kubah ini ketika mereka datang ke Madinah saat Raja Abdul Aziz rohimahullohu memerintah. Mereka hampir sala melakukannya, sekiranya mereka tidak khawatir kalau-kalau terjadi fitnah yang lebih besar dari para quburiyyun dibanding merubuhkan kubah tersebut, yang pada akhirnya menyebabkan kemungkaran yang lebih dahsyat. Lalu berapa banyak dakwaan-dakwaan batil yang akan dilontarkan oleh para quburiyyun sekiranya diserukan penghancuran kubah-kubah tersebut, yang sebagiannya sudah menyerupai sembahan Lata, Uzza dan Hubal.

Kesimpulan:

1. Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam tidak dimakamkan Masjid Nabawi melainkan di rumah Aisyah rodhiyallohu ‘anha (lebih tepat di dalam kamar). Ini jelas membantah pernyataan yang menyebut bahwa Masjid Nabawi dibangun di atas kubur.

2. Keberadaan kuburan Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam di dalam Masjid Nabawi karena kebijakan yang diambil oleh khalifah Walid bin Abdul Mulk untuk merenovasi total masjid. Kebijakan ini tidak disetujui oleh para ulama khususnya fuqaha di Madinah. Pada saat itu sudah tidak ada lagi sahabat yang masih hidup terutama di Madinah.

3. Sebagaimana penempatan kuburan Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam pada zaman khalifah Al Walid, pembangunan kubah (dibangun oleh Raja Mesir Al Manshur tahun 678H) di atasnya pun banyak ulama yang mengingkarinya.
[1] Dinukil dari artikel situs http://www.almanhaj.or.id yang berjudul: “Kapan Awal Mula Kuburan Rosululloh Dimasukkan ke dalam Kawasan Masjid Nabawi” dan “Kapan Awal Mula Kubah Di Atas Kuburan Rosululloh Shollallohu Alaihi Wasallam Di Bangun”. Kedua tulisan adalah karya dari beliau rohimahullohu. Ada beberapa edit dan penambahan seperlunya.

[2] (8/65) dari Tarikh beliau

Entry filed under: Uncategorized. Tags: .

RUANGAN DALAM MASJID NABI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blog Stats

  • 10,389 hits
April 2008
M T W T F S S
     
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Archives

Categories

Top Posts


%d bloggers like this: